Ads 468x60px

Pages

Subscribe:

Labels

feature content slider

Label

Template Information



Assalamu'alaikum wr wb
Selamat datang di MIQRA INDONESIA GROUP. Sumber Inspirasi, Motivasi, Ilmu dan Amal untuk ke-SUKSES-an hidup Anda di dunia akhirat.
Ayo Gabung Dengan Komunitas Pembaca MIQRA INDONESIA GROUP
Dapatkan Hadiah Ebook:
”ILMU MENJADI KAYA”

Setelah Anda bergabung dengan Mailing List MIQRA INDONESIA GROUP.


| ILMU MENJADI KAYA |

Contact online

Your Ad Here

Labels

Test Footer

Free Blogger Templates


BLOG IS MY SALESMAN ARDA DINATA:
| ARDA EKLIPING INDONESIA | Cara Menjadi Kaya | Dunia Kesehatan Spritual | Dunia Pustaka dan Referensi | Dunia Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang | Dunia Kesehatan Lingkungan | ALIFIA E-Clipping and Reviewing | Reuse News Indonesia | ARDA Reseller News | Rahasia Penulis Sukses | Reseller News Indonesia |

MENU ARDA EKLIPING INDONESIA:
| BERANDA KLIPING | KLIP IPTEK | KLIP PSIKOLOGI | KLIP WANITA | KLIP KELUARGA | KLIP ANAK CERDAS | KLIP BELIA & REMAJA | KLIP GURU & PENDIDIKAN | KLIP HIKMAH & RENUNGAN |

MENU HIDUP SEHAT DAN KAYA:
| Dunia Spritual dan Kesehatan | Rahasia Menjadi Kaya | Dunia Reseller | Reuse News | Pustaka Bisnis |

MENU ARDA PENULIS SUKSES:
| Inspirasi Penulis | Rahasia Penulis | Media Penulis | Sosok Penulis | Pustaka Penulis |

MENU AKADEMI PEMBERANTASAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG:
| Dunia P2B2 | Dunia NYAMUK | Dunia LALAT | Dunia TIKUS | Dunia KECOA | Pustaka P2B2 |

MENU AKADEMI KESEHATAN LINGKUNGAN:
| Inspirasi ARDA | Dasar KESLING | P.Sampah | Tinja & Aair Limbah | Binatang Pengganggu | Rumah & Pemukiman Sehat | Pencemaran Lingkungan Fisik | HYPERKES | Hygiene Sanitasi Makanan | Sanitasi Tempat Umum | Air Bersih | Pustaka Kesehatan |

MENU MIQRA INDONESIA:
| Home Inspirasi | Opini | Optimis | Sehat-Healthy | Keluarga-Family Life | Spirit-Enthusiasm | Ibroh-Wisdom | Jurnalistik | Lingkungan-Environment | Business | BooK | PROFIL | Jurnal MIQRAINDO | Reseller News Indonesia |

DAFTAR KORAN-MAJALAH INDONESIA:
| Pikiran Rakyat | KOMPAS | Galamedia | Republika | Koran Sindo | Bisnis Indonesia | Sinar Harapan | Suara Pembaruan | Suara Karya | Suara Merdeka | Solo Pos | Jawa Pos | The Jakarta Post | Koran Tempo | Media Indonesia | Banjarmasin Post | Waspada | Suara Indonesia Baru | Batam Pos | Serambi Indonesia | Sriwijaya Post | Kedaulatan Rakyat | Pontianak POS | Harian Fajar | Harian Bernas | Bangka Post | Harian Surya | Metro Banjar | Pos Kupang | Serambi Indonesia | Kontan | Majalah Gamma | Majalah Gatra | Majalah Angkasa | Majalah Intisari | Majalah Info Komputer | Majalah Bobo | Majalah Ummi | Majalah Sabili | Majalah Parentsguide | Majalah Suara Muhammadiyah | Majalah Amanah | Majalah Tabligh | Majalah Insight |Majalah Annida | Majalah Network Business | Tabloid PC+ | Majalah Komputer Easy | Tabloid NOVA |Loka Litbang P2B2 Ciamis |


MIQRA INDONESIA GROUP
Kantor Pusat
: Jl. Raya Panganadaran Km.3 Pangandaran Ciamis 46396
Telp. (0265) 630058
Copyright © 2006-2010, Miqra Indonesia,
Email : miqra_indo@yahoo.co.id
Homepage : http://www.miqra.blogspot.com/
Design by Arda Dinata,
Wong Tempel Kulon - Kec. Lelea - Kab. Indramayu - Indonesia
Showing posts with label Motivation Writers. Show all posts
Showing posts with label Motivation Writers. Show all posts

08 September 2008

Berprestasi Melalui Tulisan

Oleh ARDA DINATA
Email: arda.dinata@gmail.com

DUNIA tulis menulis tidak hanya milik kaum wartawan. Siapa pun, kalau mau berlatih, bisa juga jadi penulis. Masalahnya, kadang-kadang kita tidak menyadari potensi yang dimiliki. Melalui tulisan ini, penulis mencoba berbagi pengalaman dalam bidang tulis menulis kepada pembaca MIQRA INDONESIA GROUP.

Tujuan utama dalam tulis menulis, adalah dimengertinya setiap kalimat yang kita susun bagi para pembaca. Kalimatnya tepat, jelas, dan tidak membingungkan pembaca. Selain itu, tulis menulis bermaksud untuk mengungkapkan fakta, data, perasaan, sikap, isi hati dan pikiran secara efekif kepada pembaca.

Bagi calon penulis, setidaknya ada tiga tahap yang harus dilalui. Yakni teknik penulisan, muatan atau isi, dan kontinuitas menulis. Barangkali pembaca MIQRA INDONESIA telah menguasai teknik penulisan dan isinya, tetapi malas untuk menulis secara kontinyu. Tentu hasilnya akan tersendat-sendat dikala menuangkan ide ke dalam tulisan. Atau pembaca MIQRA INDONESIA telah memiliki simpanan data, fakta dan ilmu pengetahuan sebagai calon isi tulisan. Tetapi, belum mengetahui teknik penulisan dan tidak secara kontinyu menulis, maka dapat dipastikan lebih sering menghadapi kegagalan. Sebaliknya, teknik dan kontinyuitas telah pembaca MIQRA INDONESIA miliki, tetapi tidak pernah berusaha menambah wawasan dan isi tulisan tersebut. Sehingga tulisan terasa kering, tidak berkembang dan membosankan.

Berdasarkan pengalaman, tidak terlalu banyak syarat sebenarnya untuk memulai menulis. Awalanya, kita harus selalu mencoba menulis, menulis, dan menulis apa saja yang ada dalam pikiran serta banyak membaca. Kemudian hasil dari tulisan itu, kita kirim ke surat kabar tertentu. Tapi, tentunya sebelum tulisan tersebut kita kirimkan, terlebih dahulu kita perlu membaca ulang dan merevisinya beberapa kali. Barangkali, ada kata-kata yang kurang tepat atau rancu. Di sini yang perlu diperhatikan juga adalah masalah ‘selera’ redaksi surat kabar tersebut.

Bagi seorang penulis, buku, membaca dan menulis adalah sebagian dari hidupnya. Penulis tanpa buku, akan menghasilkan tulisan yang hambar dan tidak berbobot. Sehingga ada seorang penulis yang mengatakan bahwa “Berbobot atau tidaknya sebuah tulisan, adalah karena ditunjang oleh banyaknya buku yang pernah dibaca penulisnya.”

Dari aktivitas menulis tersebut, selain kita telah berdakwah lewat tulisan. Kita juga akan mendapatkan imbalan materi. Besarnya honorarium tergantung kebijaksanan redaksi surat kabar yang bersangkutan, berkisar antara Rp. 10.000 sampai 200.000 rupiah per tulisan (puisi, cerpen, artikel, resensi buku, dll), bahkan lebih. Cukup lumayan bukan?

Bayangkan kalau pembaca MIQRA INDONESIA mampu menulis secara produktif. Misalnya, tiap hari mampu menulis satu tulisan, maka dalam satu minggu terkumpul tujuh buah tulisan. Lalu tulisan itu, kita kirimkan ke tujuh surat kabar dan ternyata dimuat, maka berapa pendapatan yang pembaca MIQRA INDONESIA terima? Sungguh luar biasa … bukan! Ini idealnya dan kenyataannya tergantung dari aktivitas dan kreatifitas diri kita sendiri.

Menurut The Liang Gie (1983), ada enam jenis nilai yang akan dilahirkan dalam tulis menulis, yaitu:

1. Nilai kecerdasan (Intellectual value).

Dengan sering menulis yang antara lain berupa menghubungkan buah pikiran yang satu dengan yang lain, merencanakan rangka uraian yang sistematis dan logis serta menimbang-nimbang sesuatu perkataan yang tepat. Maka seseorang akan senantiasa bertambah daya pikirnya, kemampuan hayalnya sampai tingkat kecerdasannya.

2. Nilai pendidikan (Educational value).

Seseorang pemula yang terus menulis, walaupun naskahnya belum berhasil diterbitkan atau berkali-kali ditolak. Sesungguhnya itu melatih diri menjadi tabah, ulet, dan tekun, sehingga akhirnya pada suatu hari mencapai keberhasilan. Setelah menjadi penulis yang berhasil, bilamana ia terus menghasilkan karya tulis, ini berarti ia dapat memelihara ketekunan kerja dan senantiasa berusaha memajukan diri. Itu semua merupakan nilai pendidikan yang sukar diperoleh dari sekolah manapun.

3. Nilai kejiwaan (Psychological value).

Bilamana karena keuletan terus menerus menulis dan akhirnya tulisannya dapat dimuat dalam surat kabar terkenal atau diterbitkan sebagai buku oleh penerbit terkenal. Sehingga, lahirlah pada diri penulisnya kepuasan batin, kegembiraan kalbu, kebanggaan pribadi, dan kepercayaan diri.

4. Nilai kemasyarakatan (Social value).

Seseorang penulis yang telah berhasil dengan karya-karya tulisannya, biasanya akan memperoleh penghargaan di masyarakat. Paling tidak, namanya dikenal oleh para penerbit, pengusaha toko buku dan sidang pembaca tertentu.

5. Nilai keuangan (Financial value).

Tentu saja, jerih payah dari seorang penulis yang berhasil akan menerima imbalan uang dari pihak yang menerbitkan karyanya, seperti yang penulis gambarkan di awal tulisan ini.

6. Nilai filsafat (Philosophical value).

Salah satu gagasan besar yang digumuli para ahli pikir sejak dulu ialah keabadian. Jasad orang-orang arif tidak pernah abadi, tetapi buah-buah pikiran mereka kekal diabadikan melalui karangn yang ditulis. Sampai hari ini, manusia modern mengetahui kearifan Plato melalui naskah percakapannya; kita mengetahui luasnya pemikiran Imam Al-Ghazali melalui karya-karya tulisnya; dll. Dunia Timur menyadari nilai ini dengan pepatahnya, “Segala sesuatu musnah, kecuali perkataan yang tertulis.” Bagaimana menurut Anda???***

Arda Dinata adalah penulis di beberapa blog dan pengasuh spirit jurnalistik di MIQRA Indonesia dan Majalah Inside, kini bekerja di Loka Litbang P2B2 Ciamis, Balitbangkes Depkes. R.I.

MyBlog ARDA DINATA:

Dunia Kesehatan Lingkungan: http://arda-dinata.blogspot.com
Dunia Inspirasi & Motivasi Hidup: http://miqra.blogspot.com
Dunia Penulis Sukses: http://arda-mediapenulis.blogspot.comDunia Kliping Terseleksi: http://eklipingiptek.blogspot.com

Karena itu Aku Menulis

Salzburg, Maret 2003, Amelia Hapsari

Ini Salzburg, sebuah kota di lereng gunung Alpen yang mulai menghangat di awal musim semi. Hutan masih kerontang karena musim dingin mengendapkan kehidupan pada coklat pucat dan kelabu yang muram. Tapi rumput-rumput kecil yang lembut dan keras hati sudah mulai tumbuh, menemani bunga-bunga liar putih kecil bertotol kuning di tengahnya, atau si lila mungil yang mulai bercokol di sela-sela semak yang belum tumbuh daunnya.

Salzburg masih belum tersentuh warna musim panas yang hijau-biru segar seperti dirinya dalam film “Sound of Music.” Tapi aku di sini, mulai detik ini, akan memulai suatu titik baru dalam hidupku. Aku akan menulis lagi.

Sejak aku mulai bisa mengeja kata dan melambangkan bahasa dengan coretan-coretan berbentuk alfabet yang bisa dibaca, aku sudah mulai menulis. Aku mengarang cerita tentang seorang anak yang dipungut oleh orang tuanya dan kemudian menemukan jati dirinya yang sesungguhnya. Cerita itu kutulis di atas kertas kalender harian yang disobek karena sudah lewat tanggalnya. Kertas-kertas itu kusembunyikan supaya kedua orang tuaku tidak mengetahui isinya.

Tentu saja itu hal yang mustahil, karena rumah kami ketika itu tidak mengenal privasi. Mama, Papa, aku, dan ketiga adikku tinggal tidur di sebuah kamar yang sama, baju-baju kami disimpan di lemari yang sama, dan alat-alat sekolah kami juga berbagi rak yang sama dengan buku-buku lain. Aku hanya merasa malu, bahwa aku sempat membayangkan cerita anak pungut itu. Ini semua gara-gara film drama cengeng Indonesia tahun 80-an yang kutonton di TVRI. Cerita itu tidak pernah selesai, dan kertasnya mungkin sudah kuenyahkan.

Setelah itu aku masih selalu berusaha menulis dengan baik. Aku membuat buku kumpulan puisi bersama temanku Ninis pada kelas tiga SD. Kumpulan puisi itu sempat terbit sampai tiga edisi. Terbitannya cuma satu kopi, dari sobekan halaman tengah buku tulis yang kemudian dibendel dengan staples. Aku dan ninis memberi nilai satu sampai sepuluh karya-karya kami. Tentu saja karyaku sendiri kuberi nilai tinggi-tinggi. Curang sekali, ya? Tapi toh hanya Ninis yang protes, karena tidak pernah ada orang yang kami perbolehkan membacanya.

Setelah aku di kelas lebih tinggi, lebih banyak membaca puisi, karya-karya itu kupandang norak dan tidak bermutu, maka gampang terbuang begitu saja. Ingatanku tentang usahaku menulis setelah itu adalah ketika aku kelas lima SD, dan ingin menulis tentang seorang gadis kecil yang pandai tapi sombong. Belum jadi satu halaman, orang-orang di rumahku sudah mulai berseliweran sambil berusaha mengintip, apa yang sedang aku tulis. Jangan salah sangka, aku yakin mereka bangga bahwa aku gemar menulis. Tapi keingintahuan mereka membuatku malas menulis lagi.

Aku merasa bahwa suka menulis itu tidak normal, bahkan menulis itu bukan suatu cita-cita yang harus terus ditekuni. Mengapa? Ada tiga alasan yang pernah aku bayangkan.

Yang pertama, menulis itu menghasilkan terlalu sedikit uang. Dilahirkan di keluarga wiraswastawan, aku selalu dididik untuk menghargai uang. Kami selalu hidup hemat, dan berusaha mengumpulkan uang.

Kalau waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk menghasilkan sebuah tulisan yang baik digunakan untuk bekerja dalam bidang teknik, perdagangan, atau bidang lain yang lebih menguntungkan secara ekonomi, maka pekerjaan menulis boleh dikategorikan sebagai penggunaan waktu yang tidak terlalu produktif. Semua tulisan yang baik melalui proses riset dan pemikiran yang mendalam, digarap dengan teknik yang memakan waktu untuk berlatih dan berani salah, serta melibatkan proses pencarian gaya tulisan yang bertahun-tahun. Untuk sebuah ketrampilan yang ditempa sedemikian lama, penulis rata-rata mendapat penghasilan yang tidak seimbang. Apalagi kalau ia hanya menulis untuk dirinya sendiri. Apalagi kalau ia harus menghidupi keluarganya.

Yang kedua, penulis itu terlihat memenuhi syarat untuk digolongkan jadi pemalas. Aku bisa membayangkan mempunyai suami seorang penulis yang bangun seenaknya, dengan pakaian seenaknya juga mulai menulis, makan dan tidur seenaknya, dan pergi seenaknya. Pasti dibutuhkan hati seluas samudra untuk menjadi istri seorang penulis. Sedangkan menjadi suami seorang penulis, aku belum bisa membayangkannya, karena tuntutan sebagai istri dan ibu di Indonesia hampir tidak bisa ditawar lagi. Keadaan ini, ditambah dengan harga tulisan yang tidak menentu, tidak adil bagi pasangan para penulis, apalagi anak-anak mereka.

Yang ketiga, penulis itu seringkali mau enaknya saja. Kritik sana kritik sini, tapi jarang benar-benar ikut serta untuk memperbaiki masalah, alias omdo (omong doang). Karena pengetahuan mereka di ranah teori dan banyaknya bacaan mereka yang memperluas wawasan, para penulis mudah menuding, apalagi menulis analisa yang membuat luka-luka pada pihak yang merasa tertuding. Karena itu penulis biasanya lekas dianggap idealis dan tidak realistis, sehingga cap omdo pada penulis ini mudah dilekatkan masyarakat sekitarnya.

Paling tidak, inilah gambaran orang tuaku tentang penulis. Gambaran yang sangat manusiawi dan wajar dimiliki siapapun. Karena ini, dan lebih karena tema-tema pelajaran mengarang dari SD sampai SMA tidak pernah jauh dari tema kebersihan lingkungan dan tema-tema apolitis yang membosankan lainnya, maka bertahun-tahun sejak lulus SD aku tidak menulis lagi. Kalau aku menulis, aku menulis di malam larut yang sepi, ketika aku sendiri, kemudian menyimpannya rapat-rapat dari dunia luar asing yang tidak memahamiku.

Tapi mulai hari ini aku akan mulai menulis lagi.

Aku menulis, karena seringkali aku tidak cukup luas untuk menampung muatan gundah atau marah yang menyerbuku. Sering kali juga rasa syukur itu meluap banjir dan butuh mengalir. Dan kalau aku sedih, aku butuh suatu ruang kosong untuk menuang air mataku dan meletakkan bebanku. Aku menulis karena ada yang minta dilahirkan melalui pena dan buku tulisku.

Aku menulis, karena identitasku sebagai minoritas di manapun aku berada. Kalau Anda belum pernah menjadi minoritas, beginilah rasanya. Sebagai seorang wanita, aku diharapkan untuk mencapai “kodratku,” sebagai ibu dan istri yang baik. Karena itu setiap kali aku berhadapan dengan laki-laki dalam konteks kerja, aku selalu ditatap dengan sorot mata yang berkata, “Nggak usah lah berkompetisi dengan kami, para laki-laki. Dua atau tiga tahun lagi kamu akan punya anak dan nggak akan punya waktu lagi buat bersaing dengan kami.”

Sebagai seorang beretnis Cina di Indonesia, aku masih selalu merasa dicurigai, bahwa aku akan mewakili ide-ide prototip Cina yang menghalalkan segala cara hanya demi uang, atau hanya berorientasi pada perolehan laba sebesar-besarnya. Kalau aku ke Amerika, ke Eropa, atau ke negara lain yang katanya menjunjung sikap anti diskriminasi, segera aksen Jawa pada bahasa Inggris atau Jermanku membuat orang berpikir panjang untuk menilai bahwa aku sama kompetennya dengan mereka.

Aku juga hanya sedikit minum alkohol dan tidak merokok, yang segera membuatku dianggap kurang gaul atau terlalu konservatif di negara-negara Barat. Bahkan kalaupun aku ke Cina, tempat di mana aku secara fisik tidak akan kelihatan jauh berbeda dengan penduduk mayoritasnya, mereka akan bilang bahwa aku orang Indonesia, dari budaya yang tidak sama dengan mereka.

Dengan menulis, aku menyampaikan diriku yang aku yakini, tanpa harus masuk ke dalam benteng-benteng sempit itu. Aku bisa bebas bersuara, tanpa perlu menampakkan wajahku, yang kadang membuat benteng-benteng tadi, atau tanpa memperlihatkan logat Jawaku, yang sering dianggap kampungan. Ketika orang membaca tulisanku, mereka akan membacanya pada sebuah sudut tenang sehingga aku dalam tulisanku bisa berbicara secara personal kepada mereka, tanpa dihalangi benteng-benteng aneh tadi. Dengan menulis, identitasku yang majemuk itu tidak lagi menjadi sandungan-sandungan, tetapi justru memperkaya nuansanya.

Dengan menulis, aku mendapat kesempatan untuk menyusun semua yang ingin kusampaikan beserta segala bentuk emosinya secara teratur, sehingga aku memperkenalkan perspektifku dengan lebih efektif dan berani. Dalam komunikasi langsung, kadang naluri Jawaku untuk menghindari konflik masih mendominasi keinginanku untuk terus terang dan terbuka dalam berbedaan pendapat.

Tulisan adalah senjataku, karena pada saat-saat tertentu aku merasa sebagai manusia yang sangat tidak berdaya. Ketika perang dinyatakan, ketika hak hidup manusia diinjak-injak, ketika yang berkuasa merampas, ketika alam tidak diindahkan, ketika melihat kebencian yang dilegitimasi oleh agama atau etnisitas, aku merasa lemah. Aku merasa kesepian dan sendirian dalam keinginan untuk menghentikan semua itu. Karena itu aku duduk sendiri dan menulis. Aku menulis sisa-sisa harapan di padang kegelisahanku.

Aku meyakini tulisanku sebagai sebutir biji atau spora lumut yang paling bandel yang akan tinggal di pikiran siapapun yang membacanya. Dengan paduan keadaan dan suatu kesempatan yang tepat, aku yakin bahwa suatu hari spora lumutku akan tumbuh di suatu tempat, menjadi perintis sebuah taman baru yang berbuah banyak.

Karena itulah rezim otoriter yang keji membenci para penulis. Mereka menghukum bahkan membunuh banyak penulis hebat hanya karena tulisannya. Karena tulisan adalah bom waktu yang bisa meledak ketika sejarah menghendakinya. Dan karena itulah aku menulis.

MyBlog ARDA DINATA:
Dunia Kesehatan Lingkungan: http://arda-dinata.blogspot.com
Dunia Inspirasi & Motivasi Hidup: http://miqra.blogspot.com
Dunia Penulis Sukses: http://ardapenulis.blogspot.com

Rahasia Memulai Menulis

Oleh ARDA DINATA
http://ardaiq.blogspot.com

"Mulailah dari apa yang ada, karena yang ada lebih dari cukup untuk memulai pekerjaan."
(Mohammad Natsir)


Menulis adalah sebuah pekerjaan. Artinya kita harusnya serius ketika melakukan aktivitas pekerjaan agar hasilnya tidak mengecewakan. Begitupun, dengan kegiatan menulis. Kita harusnya terus berlatih tiada henti dalam mengasah ketrampilan menulis, sehingga hasilnya tidak mengecewakan.

Banyak temen-temen di tanah air yang SMS dan kirim email ke saya menanyakan, “Bagaimana Pak rahasia untuk memulai menulis itu?”

Aku kadang sekenanya saja menjawab, karena lewat SMS itu terbatas jawabannya. Untuk itu tulisan ini mungkin bisa melengkapi jawaban saya yang pernah temen-temen terima sebelumnya.

Ingat, sesuatu pekerjaan itu akan terasa mudah dan mengalir, bila yang kita lakukan itu betul-betul telah akrab dengan dunia kita sehari-hari. Resep ini pun bisa kita terapkan bagi temen-temen yang ingin belajar menulis.

Untuk itu, mulailah bikin tulisan dari apa yang ada. Artinya, mulailah kita menulis dengan tema-tema yang kita sukai, kuasai, minati, ada dalam keseharian, dan pokoknya yang materinya betul-betul telah akrab dalam keseharian kita (baca: materinya betul-betul kita miliki, dan bahkan telah menguasainya… he….).

Dengan bermodalkan hal-hal yang telah kita kuasai, maka saya yakin belajar menulis itu akan menjadi lancar, lancar dan lancar….! Coba saja kalau tidak percaya!!!! Hal ini diakui pula oleh Mohammad Natsir dengan ungkapannya: “Mulailah dari apa yang ada, karena yang ada lebih dari cukup untuk memulai pekerjaan.”

Jadi, rahasia memulai bikin tulisan itu adalah dengan belajar menulis tentang sesuatu yang telah ada dalam diri kita. Itu adalah modal terbesar yang bisa kita manfaatkan dalam berlatih menulis. Bagaimana menurut Anda…. ???***

Arda Dinata adalah penulis di beberapa blog dan pengasuh spirit jurnalistik di MIQRA Indonesia dan Majalah Inside, kini bekerja di Loka Litbang P2B2 Ciamis, Balitbangkes Depkes. R.I.

MyBlog ARDA DINATA:
Dunia Kesehatan Lingkungan: http://arda-dinata.blogspot.com
Dunia Inspirasi & Motivasi Hidup: http://miqra.blogspot.com
Dunia Penulis Sukses: http://arda-mediapenulis.blogspot.comDunia Kliping Terseleksi: http://eklipingiptek.blogspot.com

Menulis: Menemukan Siapa Kita?

Oleh ARDA DINATA
http://ardadinata.tk

”Saat kamu meletakkan pena di kertas dan menuangkan pikiranmu, kamu mulai menemukan apa yang kamu ketahui tentang dirimu sendiri, juga tentang dunia.”
(Caryn Mirriam-Goldberg
)


KALAU mau jujur, dalam hidup ini yang paling sulit itu sesungguhnya bila disuruh untuk menilai diri sendiri. Makanya, para psikolog biasanya untuk mengetahui dan memperbaiki perilaku seseorang, salah satunya adalah menyarankan dengan cara meminta pendapat atau penilaian dari orang lain yang terdekat dengan kita.

Hasilnya, sudah dapat dipastikan nilai kejujuran tentang pribadi kita akan muncul. Baik mengenai kebiasaan, kelebihan, kekurangan, hal-hal yang paling disenangi, dan hal lainnya. Pokoknya, hasil penilaian mereka itu sangat membantu kita dalam melakukan instropeksi dan perbaikan diri.

Lantas, pertanyaannya adalah bisakah kita menemukan sendiri tentang siapa diri kita ini sesungguhnya? Jawabnya, bisa! Yakni dengan menulis. Ya, dengan kegiatan menulis secara jujur mengenai segala hal yang kita lakukan setiap hari. Kita dapat menulis dan menelaah tentang apa yang disukai atau dibenci sekalipun, apa yang menyakitkan, apa yang kita butuhkan, apa yang dapat kita berikan, serta apa yang diinginkan sesungguhnya dalam hidup ini.

Dari dokumentasi tertulis seperti itulah, nantinya kita dapat merekap ulang dan menyimpulkan tentang segala sesuatu menyangkut diri kita. Temanya dapat kita golongkan menjadi: kebiasaan, keburukan, kebaikan, kebencian, kesenangan, hobi, dan persepsi tentang kehidupan itu sendiri atau lainnya.

Di sini, syaratnya hanya satu. Kita dituntut untuk selalu jujur ketika menuangkan pikiran, ide, dan inspirasi kita itu dalam bentuk tulisan. Tanpa kejujuran, maka yang didapat nantinya bukan pribadi diri kita yang sesungguhnya. Pokoknya, kebiasaan menulis ini dapat membantu memahami diri dan keberadaan kita di dunia dengan lebih baik. Terkait dengan itu, Robert Duncan, pernah mengungkapkan bahwa menulis adalah salah satu cara memangkas bagian permukaan sesuatu untuk menjelajahi atau memahami banyak hal.

Atas dasar itu, pantas saja Caryn Mirriam-Goldberg menyimpulkan ada 12 alasan, mengapa kita perlu menulis, yaitu:

· Menulis membantu menemukan siapa dirimu.

· Menulis dapat membantu percaya diri dan meningkatkan kebanggaan.

· Saat menulis, kamu mendengar pendapat unikmu sendiri.

· Menulis menunjukkan apa yang dapat kamu berikan pada dunia.

· Dengan menulis, kamu mencari jawaban terhadap pertanyaan dan menemukan pertanyaan baru untuk ditanyakan.
· Menulis meningkatkan kreativitas.

· Dengan menulis, kamu dapat berbagi dengan orang lain.

· Menulis memberimu tempat untuk melampiaskan amarah/ ketakutan, kesedihan, dan perasaan menyakitkan lainnya.

· Kamu dapat membantu menyembuhkan diri dengan menulis.

· Menulis memberimu kesenangan dan cara mengungkapkannya.

· Menulis membuatmu lebih hidup.

· Kamu dapat menemukan impianmu melalui menulis.

Sungguh luar biasa dan menyenangkan ke-12 manfaat dari aktivitas menulis itu, saya pun telah merasakan dari manfaat-manfaat tersebut. Dampaknya, tentu hidup kita akan semakin lebih hidup.

Jadi, dalam hidup ini tidak ada alasan untuk tidak menulis. Untuk itu, menulislah mulai sekarang untuk menemukan dirimu sendiri. Menulis yu...., yukk!!!***

Arda Dinata adalah penulis di beberapa blog dan pengasuh spirit jurnalistik di MIQRA Indonesia dan Majalah Inside, kini bekerja di Loka Litbang P2B2 Ciamis, Balitbangkes Depkes. R.I.

MyBlog ARDA DINATA:
Dunia Kesehatan Lingkungan: http://arda-dinata.blogspot.com
Dunia Inspirasi & Motivasi Hidup: http://miqra.blogspot.com
Dunia Penulis Sukses: http://arda-mediapenulis.blogspot.com
Dunia Kliping Terseleksi: http://eklipingiptek.blogspot.com

Menulis Dengan Ilham

Oleh ARDA DINATA
Email: arda.dinata@gmail.com

"Saya menulis dengan ilham."
(HAMKA)


Ilham berarti petunjuk yang datang dari Tuhan dan terbit di hati; atau merupakan bisikan hati. Ilham juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang menggerakkan seorang penulis untuk membuat tulisan.

Jadi, keberadaan ilham ini merupakan sesuatu yang sangat berarti bagi seorang penulis. Untuk itu, segera ikat ilham yang muncul di hati seorang penulis itu dengan menuliskan kata-kata dan kalimat ilham tersebut dalam sebuah (kertas, buku) kumpulan-kumpulan ide secara khusus. Sebab, ingat ilham itu belum tentu datang lagi menghampiri kita di kemudian waktu. Kalau pun hadir kembali, itu pun prosesnya saya yakin cukup lama dan susah memancingnya. Ada yang pernah merasakannya?

Setelah ilham itu kita catat, HAMKA seorang Ulama dan penulis produktif pada jamannya, menyarankan dengan mengatakan: “Membuat karangan jangan ditunda-tunda, setelah bahan terkumpul baru menulis.” Inilah anjuran HAMKA kepada anaknya, Rusydi Hamka.

Untuk itu, saran saya, begitu ilham menghampiri kita, maka segera menuliskannya dalam bentuk tulisan. Biarkan pikiran kita mengalir menuliskannya. Baru setelah kita selesai menulis, rehat sejenak dengan merujuk pada sumber pustaka yang kita punyai (buku, kliping, kamus, dll) sesuai tema terkait dengan ilham tersebut.

Berdasarkan pengalaman, bila kebiasaan membaca kita bagus dan didukung pengarsipan dokumentasi sumber pustaka yang baik, pengembangan ilham itu akan mengalir dengan sendirinya. Pokoknya, kita akan konek (secara alami) dengan tema-tema referensi sejenis yang kita miliki. Kalau udah begini…, indah banget rasanya…!!!

Jadi, segera ikat ilham yang hinggap dalam pikiran dan hati kita dengan segera menuliskannya. Yang jelas dari kebiasaan membaca yang baik, ilham (baru pun) itu akan muncul dan sekaligus akan memperlancar menuangkan ilham dalam media tulisan. Bagaimana menurut Anda, setuju …..???***

Arda Dinata adalah penulis di beberapa blog dan pengasuh spirit jurnalistik di MIQRA Indonesia dan Majalah Inside, kini bekerja di Loka Litbang P2B2 Ciamis, Balitbangkes Depkes. R.I.

MyBlog ARDA DINATA:
Dunia Kesehatan Lingkungan: http://arda-dinata.blogspot.com
Dunia Inspirasi & Motivasi Hidup: http://miqra.blogspot.com
Dunia Penulis Sukses: http://arda-mediapenulis.blogspot.com
Dunia Kliping Terseleksi: http://eklipingiptek.blogspot.com

Kesalahan Besar Calon Penulis

Oleh ARDA DINATA
Email: arda.dinata@gmail.com

"Hindarilah kesalahan besar, yaitu kesalahan tidak berbuat apa-apa!" (Mohammad Natsir)

Banyak orang ingin bikin tulisan, tapi itu hanya sekedar keinginan. Dia sibuk dengan berbagai macam pikiran yang membuatnya tidak melakukan apa-apa. Hanya sekedar ingin dan ingin.

Padahal, kalau kita mau jujur, belajar menulis itu tidak lain dengan segera menuliskannya. Tepatnya, lakukan menulis, menulis, dan menulis. Buang jauh pikiran yang menghambat Anda dalam belajar menulis.

Misalnya, Bagaimana kalau aku macet di jalan ketika menulis?, Bagaimana kalau ideku terus-terus mengalir atau sebaliknya ideku tidak muncul-muncul?, dan bla.., bla… segudang pertanyaan yang bikin kita tidak menulis-nulis.

Pokoknya, tugas pertama kita ketika belajar menulis adalah hanya satu. Yakni terus bikin tulisan, tulisan, dan tulisan. Lupakan (untuk sementara) masalah tata bahasa, gaya bahasa, dll. Nanti juga masalah itu ada waktunya. Gunakan media blog misalnya untuk menuangkan latihan-latihan kita dalam menulis. Sebab, kesalahan terbesar bagi para calon penulis ialah tidak menulis apa-apa.

Bukankah belajar menulis itu, seperti belajar berenang. Artinya, kalau kita ingin menjadi penulis, maka kuncinya dengan terus menulis. Dalam hal ini, tepat apa yang dikatakan Mohammad Natsir bahwa “hindarilah kesalahan besar, yaitu kesalahan tidak berbuat apa-apa.”

Hal terakhir itulah kesalahan besar calon penulis. Yakni tidak menulis apa-apa. Bagaimana menurut pendapat Anda, setuju…..????***

Arda Dinata adalah penulis di beberapa blog dan pengasuh spirit jurnalistik di MIQRA Indonesia dan Majalah Inside, kini bekerja di Loka Litbang P2B2 Ciamis, Balitbangkes Depkes. R.I.

MyBlog ARDA DINATA:
Dunia Kesehatan Lingkungan: http://arda-dinata.blogspot.com
Dunia Inspirasi & Motivasi Hidup: http://miqra.blogspot.com
Dunia Penulis Sukses: http://arda-mediapenulis.blogspot.com
Dunia Kliping Terseleksi: http://eklipingiptek.blogspot.com

30 July 2008

Writing Literature

Writing Literature Essays
Submitted by dmbh

During the two year IGCSE course you will be expected to write about the texts you study in a variety of ways. You may be asked to write a diary or monologue in role as on of the characters, rewrite the story for a different audience, write a newspaper article about the story etc. But the most common way of responding to literature is through an essay which are are asked to 'discuss...','compare...','give a personal response...' Etc. Essays like this are called literary criticism, and you need to be able to analyse the text and describe your response. There are certain basic techniques for writing in this way.

Techniques of Literary Criticism
1. Answer the question
2. Write in an appropriate style
3. Support your answer with evidence

1. Answer the questionImagine you were asked one of these typical IGCSE questions:
• Comment on the role of X in helping the audience understand the play.
• Compare and contrast the characters X and Y.

In order to answer the question successfully you need to be absolutely clear about what you are being asked to do. The question will definitely not ask you to retell the storyline. This is the biggest mistake students make - retelling the storyline rather than answering the question.

Start by underlining or writing out key words from the questions, and then make notes. In your notes you should be writing down the key points you will make in your essay. Choose your own preferred style of making notes but some useful suggestions are spider-diagrams or lists.

2. Write in an appropriate style
• Literary criticism requires a fairly formal style. That means that you should:
• Use standard English
• Avoid contractions (e.g. isn't, aren't)
• Use precise vocabulary and avoid using slang ie use 'the children' rather than 'the kids'
• Write in substantial paragraphs, usually two, three or four to a side of A4.
• Use an introduction if you need to define the title, or explain your approach to the questions. Otherwise, dive straight into your first point.
• Try to use an impersonal style e.g. 'one fo the main themes in the play 'All My Sons' is the extent to which an individual is responsible to other members of society.'
• Use cohesive devises to add variety and clarity to your writing: however, although, therefore, then, at first, later...and so on.
• Show that you are answering the question by echoing its phrasing at the start of a new paragraph.
• Avoid sounding like you are having a chat with your best friend.

3. Support your opinions with evidenceOne of the most important techniques when writing literature essays is to use quotations to support your ideas. There are two ways of using quotations:
1. Place long quotations (more than one sentence) in a separate paragraph e.g. Like all tragic heroes Keller makes a mistake which results in his downfall and eventual death. He is guilty of placing his family above the wider family of society and expects everyone else to do the same.'There's nothing he could do that I wouldn't forgive. Because he's my son...I'm his father and he's my son, and if there is something bigger than that I'll put a bullet in my head.' (-Arthur Miller, All My Sons)

2. Embed short quotations into your own sentences. E.g. Joe Keller is a man in his sixties who believes that 'there is nothing bigger than family.'(-Arthur Miller, All My Sons)Finally there is no substitute for detailed knowledge and understanding of the text. Students who demonstrate they are extremely familiar with the characters, action and background of a text generally score high grades in their exams and on their class assignments. Take time to reread each book, play or poem studied.

26 July 2008

Thinking and Writing in Honors

Walsh FICTION THAT SELLS
Jenis Berkas: PDF/Adobe Acrobat - Motivation Writers’ Journal. People in real life don’t react to a situation unless. they have a reason. To make characters come alive you ...www.nhn.ou.edu/~jeffery/writer_help/write_for_sale.pdf -

1 Thinking and Writing in Honors: Focus on the Essay Honors 100 ...
Jenis Berkas: PDF/Adobe Acrobat - To develop writerly motivation. Writers notice and engage just about everything in. relationship to themselves. But their subjects are not chosen at random. ...www.usm.maine.edu/honors/2007-2008%20syllabi/100syl2007.pdf -

Thinking and Writing in Honors
Jenis Berkas: PDF/Adobe Acrobat - To develop writerly motivation. Writers notice and engage just about everything in relationship. to themselves: from the noise in a public bathhouse ...www.usm.maine.edu/honors/100Briggs2005.pdf -

‘Our desires are ungovernable’
rarely do writers mention the thrill accompanying the breaking of the law. as their primary motivation. Writers may be on the edge—in the sense that ...tcr.sagepub.com/cgi/reprint/10/3/275.pdf -

Theoretical Criminology
as their primary motivation. Writers may be on the edge—in the sense that. Theoretical Criminology 10(3). 292. © 2006 SAGE Publications. ...tcr.sagepub.com/cgi/reprint/10/3/275.pdf?ck=nck -

Untitled
Jenis Berkas: PDF/Adobe Acrobat - and skills); more motivation (writers encourage each other); multiple sources of feedback. during draft stages; opportunities for less experienced writers ...mars.gmu.edu/dspace/bitstream/1920/3021/1/Cassidy_Lauren.pdf -

WIKIPEDIA AS COLLECTIVE ACTION: PERSONAL INCENTIVES AND ENABLING ...
Jenis Berkas: PDF/Adobe Acrobat - ... benefit from increased usage of their contributions, as it. provides a motivation (writers and editors work in anticipation of others finding their ...www.msu.edu/~john2429/Wikipedia%20as%20Collective%20Action.pdf -

Houston Chronicle's JSC News From Home
Jenis Berkas: PDF/Adobe Acrobatwell as motivation. Writers are able to participate in a. common atmosphere with members who believe in the. written word. ...www.jsc.nasa.gov/news/columbia/107_onboard_archive/messages/nfhJan232003.pdf